Jumat, 09 Desember 2011

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DAN MENDENGAR ANAK KELOMPOK B RA NURUL IKHSAN MELALUI KEGIATAN MENCERITAKAN PENGALAMAN SEDERHANA DENGAN URUT MENGGUNAKAN METODE BERCAKAP-CAKAP

I.             PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan Taman Kanak-Kanak menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 28 ayat 3 adalah membantu anak didik dalam mengembangkan berbagai potensi baik secara psikis maupun fisik yang meliputi pengembangan moral, nilai, sosial, emosional, kognitif, bahasa, motorik, kemandirian dan seni untuk dipersiapkan memasuki Pendidikan dasar.
Tujuan program kegiatan belajar TK adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan keterampilan, dan daya cipta anak didik  untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar TK meliputi pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan, dan jasmani.
Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia  tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti: dan, karena, tetapi; menggunakan kata tanya seperti bagaimana, apa, mengapa, kapan; membandingkan dua hal; memahami konsep timbal balik; menyusun kalimat; mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana.
Anak prasekolah biasanya telah mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga dapat menambah perbendaharaan kata.
Idealnya, kelompok B sudah memenuhi kriteria mampu berbahasa seperti paparan di atas. Kenyataannya, dalam kegiatan pembelajaran pengembangan berbahasa, prestasi belajar anak tergolong rendah.  Hal tersebut bisa diamati berdasarkan gejala-gejala berikut:
1.      Anak kurang lancar berbicara
2.      Anak masih malu-malu mengungkapkan perasaannya secara lisan
3.      Sebagian anak bersikap pasif ketika diminta ikut terlibat dalam kegiatan berbicara
4.      Anak kurang mampu menyambung pembicaraan karena keterbatasan kosa kata
Faktor penyebab timbulnya permasalahan di atas adalah:
1.      Guru kurang memberikan bimbingan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa siswa
2.      Metode yang digunakan kurang memberikan kesempatan pengembangan kemampuan berbahasa
3.      Guru kurang aktif sehingga anak juga menjadi pasif
4.      Media yang digunakan kurang bervariasi dan tidak merangsang untuk meningkatkan respon anak
Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis akan menggunakan metode bercakap-cakap untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak. Penulis memilih metode ini karena pada metode bercakap-cakap interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik, atau antara anak dengan anak bersifat menyenangkan berupa dialog yang tidak kaku. Topik pembicaraan dapat bebas ataupun ditentukan. Dalam percakapan tersebut, guru bertindak sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak memotivasi anak dengan harapan anak lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya atau mengekspresikan secara lisan. 
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Kelompok B RA Nurul Ikhsan Melalui Kegiatan Menceritakan Pengalaman Sederhana dengan Urut Menggunakan Metode Bercakap-Cakap”.
B.     Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Apakah penggunaan metode bercakap-cakap dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak kelompok B RA Nurul Ikhsan melalui menceritakan pengalaman sederhana dengan urut?
C.     Tujuan Perbaikan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan perbaikan pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar melalui menceritakan pengalaman sederhana dengan urut anak kelompok B RA Nurul Ikhsan menggunakan metode bercakap-cakap.
D.    Manfaat Perbaikan
1.      Manfaat bagi siswa
a.       Meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak
b.      Membantu anak lebih percaya diri dalam menjalin komunikasi dengan guru dan teman sejawat
c.       Memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tidak kaku
2.      Manfaat bagi guru
a.       Meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran
b.      Meningkatkan profesionalisme guru karena telah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran
c.       Metode bercakap-cakap dapat dijadikan salah satu alternatif metode pembelajaran di RA Nurul Ikhsan
3.      Manfaat bagi sekolah
a.       Hasil perbaikan pembelajaran bisa memberikan kontribusi positif bagi  kemajuan sekolah
b.      Motivasi bagi guru yang lain agar melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas sekolah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut